Ilustrated - Edupreneurships. (foto: ist/palontaraq)
Ilustrated - Edupreneurships. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Etta Adil

Tulisan sebelumnya: Abby Onety dan Ajakan Keseruan Menulis ala Blogger Perempuan

PALONTARAQ.ID – Hi, Sahabat Palontaraq sekalian ….

Pernah mendengar istilah ‘Writerpreneurship’?  Kira-kira kalau diartikan, maka dapat dikatakan bahwa ‘Writerpreneurship’ adalah kewirausahaan dalam bidang tulis menulis, yang dilakoni oleh seorang penulis.

Writerpreneurship, secara sederhana dapat dikatakan sebagai upaya menjadikan dunia tulis menulis sebagai ladang berwirausaha, termasuk didalamnya memotivasi untuk menggiatkan kegiatan literasi dan melahirkan penulis-penulis baru dan membukukan karyanya.

Writerpreneurship, akan mirip dengan profesi motivator dalam dunia tulis menulis. Tentang bagaimana mengadakan pelatihan menulis, workshop kepenulisan dalam tema atau bidang tertentu, memfasilitasinya pesertanya sampai benar-benar dapat menulis, serta menjadi jembatan bagi penerbitan karya-karyanya.

Seperti banyak diketahui, bahwa ada begitu banyak pekerjaan atau profesi yang akrab dengan dunia tulis menulis, namun masih banyak orang yang tidak tahu bagaimana cara dan aksesnya untuk dapat menerbitkan karya tulisnya.

Lihat pula: Menulislah dan Engkau akan Bisa Membiayai Dirimu sendiri

Profesi guru misalnya, dituntut untuk dapat menulis buku ajar, namun hanya sedikit diantaranya yang mengetahui bagaimana harus memulai, menyusunnya dari mana, berkonsultasi sama siapa, bagaimana teknis dan aturan penulisannya, dan seterusnya sampai kemana harus menerbitkannya, dan bagaimana pembiayaannya.

Motivator dalam dunia tulis menulis juga bukan tidak mudah, paling tidak seseorang itu sudah punya karya sendiri, meski tidak ‘best seller’. Penulis harusnya memotivasi penulis, guru penulis harusnya dapat memotivasi guru menjadi penulis.

Menjadi guru dan penulis sekaligus memang kedengarannya ‘keren’, paling tidak jika melihat perkembangannya, sekarang ‘writerpreneur’ akan menjadi lahan rezeki tersendiri bagi mereka yang memiliki kemampuan menulis dan menjadikannya lahan wirausaha.

Nah, gaes ….

Bagaimana dengan ‘edupreneur’. Sebenarnya istilah ‘Writerpreneur’ dan ‘Edupreneur’  adalah dua istilah yang sama saja, meskipun Edupreneur bisa saja lebih luas cakupan usahanya, yaitu pengembangan dan peningkatan kompetensi tenaga pendidik.

Writerpreneur ataupun Edupreneur bisa saja berangkat dari profesi seorang guru atau penulis (writer) yang pengusaha ataukah seorang yang berwirausaha dengan publikasi tulisannya atau caranya menelorkan kemampuan menulisnya.

Lihat pula: Penerapan Psikologi Sastra

Ataukah disisi lain, ‘edupreneurship’, sebagai seorang pendidik (guru) yang pengusaha (edupreneur), ataukah guru yang berwirausaha? Ataukah pula seorang penulis dan guru yang menggunakan keahliannya untuk mendapatkan kepuasan secara ekonomi (financial), lewat media pelatihan berbagi dan mengajarkan kemampuannya kepada guru atau tenaga kependidikan lainnya.

Menelusuri kedua ‘istilah baru’ ini menjadi menarik perhatian saya, dalam konteks bagaimana pendidikan itu dikelola dan dikembangkan oleh seorang guru dan penulis sekaligus, dengan tujuan dibelakangnya adalah wirausaha atau bisnis (entrepreneurship).

Apakah ini berarti komersialisasi tulisan (writerpreneur) dan komersialisasi pendidikan (edupreneur), lantas bagaimana Nilai-nilai pendidikan itu dicapai sebagai aspek yang menyeluruh, motorik, kognitif dan afektif-nya, serta mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual pada suatu rancang bangun kewirausahaan (komersialisasi).

Nampaknya hal ini harus dijawab langsung oleh mereka yang bergelut di bidang kewirausahaan tulisan dan pendidikan ini.

Bagaimana metodenya, tujuannya apa, sasaran yang ingin dicapai, pengetahuan apa saja yang ditawarkan, dapatkah hal tersebut menjadi jembatan baru menemukan ‘keahlian khusus’ untuk memperbaiki nasib (baca: financial), khususnya bagi penulis dan guru, atau bagaimana?

Nampaknya untuk menjawab semua ini, mari browsing. Internet telah menyediakan segala kebutuhan informasi itu, dan dalam kenyataannya, kita akan sangat ketinggalan jika menghabiskan waktu membahas peristilahan.

Sementara edupreneurship itu sendiri sudah dipraktekkan dalam banyak kreatifitas, memanfaatkan Teknomogi Indormasi dan Komunikasi (TIK).

***

Dunia bisnis, wirausaha dan pendidikan memiliki koneksi dan titik temu melalui edupreneur. Edupreneur atau educational entrepreneur berasal dari dua kata yaitu education bermakna pendidikan dan entrepreneur bermakna pengusaha atau wirasahawan.

Lihat pula: Tips NgeBlog ala Etta Adil

Nah, Sahabat Palontaraq sekalian ….

Ada juga yang menyamakan istilah edupreneur dengan istilah teacherpreneur. Edupreneur dapat dimaknai dari beberapa perspektif yaitu:

Edupreneur sebagai praktek wirausaha di bidang pendidikan, meskipun beliau bukanlah seorang pendidik atau guru. Seorang pengusaha atau perusahaan yang bergerak di sektor pendidikan.

Edupreneur adalah wiraswasta di bidang pendidikan; seseorang yang mengatur dan menjalankan bisnis atau bisnis (memperbaiki atau memajukan pendidikan), mengambil risiko lebih besar dari biasanya untuk melakukannya.

Sungguh dibutuhkan semua dorongan, inovasi, dan semangat yang luar biasa untuk menciptakan sebuah bisnis pendidikan yang dapat menggerakkan ekonomi di era sekarang dan masa mendatang. (EdTech Digest. 2017. 50).

Edupreneur merupakan pengajar yang mengaplikasikan konsep wirausaha dalam proses pembelajaran. Seorang atau institusi pendidikan yang menjalankan prinsip wirausaha yang baik demi suksesnya pendidikan.

Edupreneur adalah seseorang yang telah berprofesi sebagai pendidik bahkan sebelum mengorganisir sebuah bisnis yang berkaitan dengan pendidikan.

Edupreneur adalah mereka yang telah menginvestasikan waktu, energi, dan modal untuk menciptakan, mengembangkan, dan memasarkan program, produk, layanan, atau teknologi untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pembelajaran. (Charles W. Lavaroni, M.S. & Donald E. Leisey. 2011. The Edupreneur).

Lihat pula: Konten Marketing dalam Ngeblog

Edupreneur adalah pendidik yang melaksanakan pengajaran dengan membiayai sekolah mereka sendiri, dan mengembangkan diri dengan itu.

Dalam perkembangannya saat ini, beberapa guru telah meninggalkan sistem pendidikan yang mapan karena beberapa alasan, yaitu karena telah menemukan spesialisasi dan hasrat dalam pendidikan.

Beberapa guru tersebut melayani kelompok, individu, dan bahkan komunitas yang bebas, terbuka, besar. Mereka mempersonalisasi pengalaman belajar untuk para siswa, mencari nafkah, dan membayarnya ke depan dengan membantu orang lain.

Banyak edupreneur bekerja secara online, di mana mereka bisa membangun jaringan siswa dan guru. Mereka dapat memilih untuk melakukan pekerjaan sukarela, membuat perbedaan, mempublikasikan karya inspiratif di situs web mereka dan tetap mendapatkan kehidupan yang sehat. (Sylvia Guinan. 2015. Edupreneurs – Creating A New Wave of Disruption In Education)

Yang pasti, saat ini sudah banyak bermunculan situs yang dapat dikategorikan sebenarnya sebagai bentuk writerpreneurship atau edupreneurship, bahkan dengan kreatifitas memudahkan siswa, peserta didik, mahasiswa, guru, dosen, dan pembelajar lainnya untuk mendapatkan pengetahuan baru, softskill ataukah hardskill.

Skill Academy misalnya, yang masih merupakan pengembangan dari “Ruang Guru”, Implementasi Webinar untuk Seminar dan Pelatihan Online, termasuk kuliah jarak jauh (Distance Learning), Pengorganisasian Seminar/Pelatihan Offline untuk Peningkatan Kompetensi Guru adalah contoh-contoh Edupreneurship yang nyata.

Lihat pula:  Tips NgeBlog saat Tidak Tahu harus Nulis Apa?

Mari tingkatkan terus kapasitas dan kompetensi, entah sebagai fasilitator pelatihan dan pengembangan pendidikan, pemateri, ataukah sebagai pesertanya.

Yang jelas, dengan perkembangan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) saat ini, komunitas pendidikan seharusnya jauh lebih luas dan dapat mengembangkan dirinya, dalam berbagai aspek pembelajaran dan kompetensi.

Mari, mengakrabi  ‘Writerpreneur’ dan ‘Edupreneurship’ itu.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here