Perbedaan puisi dan sajak
Perbedaan puisi dan sajak

 

Oleh: Etta Adil 

PALONTARAQ.ID – Banyak diantara kita yang menganggap sama saja antara Sajak dengan Puisi. Apa itu Sajak? “Sajak itu ya, Puisi!” Apa itu Puisi? “Puisi itu ya, Sajak!”

Sajak dan puisi merupakan salah satu karya seni tertua, tak sekadar karya sastra. Sajak dan puisi juga menggambarkan identitas suatu budaya dan muncul selalu bersamaan dengan suatu kejadian bersejarah.

Aristoteles, filsuf terkemuka dari Yunani, berpendapat bahwa sajak dan puisi telah menjadi bagian dari setiap dinamika seni itu sendiri.

Dalam Bahasa Yunani, Puisi diambil dari kata “Poeima” yang berarti membuat, atau “poesis” yang berarti pembuatan. Karena pada dasarnya Puisi telah membuat suatu dunia tersendiri, yang berisi pesan atau gambaran suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah.

Tapi, apakah sebenarnya sajak dan puisi itu satu hal berbeda atau sama saja? Istilah puisi berasal dari kata “Poezie” dalam Bahasa Belanda, sedang “Gedicht” diartikan sebagai Sajak.

Perbedaan Sajak dan Puisi tidak secara mutlak terlihat. Hal inilah yang menyebabkan keduanya dianggap sama. Dalam khazanah Bahasa Indonesia (Melayu) hanya dikenal istilah sajak yang berarti poezie maupun gedicht.

Uniknya, Istilah puisi cenderung digunakan berpasangan dengan istilah prosa, seperti istilah Poetry (Poem) dalam Bahasa Inggris yang dianggap sebagai Karya Sastra.

Jadi, istilah puisi lebih bersifat umum, jenisnya, sedangkan sajak bersifat khusus, individual. Sajak adalah puisi, tetapi puisi belum tentu sajak. Loh, Bagaimana bisa?

Puisi mungkin saja terdapat dalam prosa seperti cerpen, novel, atau esai sehingga sering orang mengatakan bahwa kalimat-kalimatnya puitis (bersifat puisi).

Puisi menjadi suatu pengungkapan secara implisit, samar, dengan makna yang tersirat, di mana kata-kata condong pada artinya yang konotatif, demikian menurut Putu Arya Tirtawirya.

Sementara sajak, lebih luas lagi, tak sekadar hal yang tersirat, tetapi sudah menyangkut materi isi puisi, bahkan sampai ke efek yang ditimbulkan, seperti bunyi. Maka itu, sajak terkadang juga dimaknai sebagai bunyi.

Mengutip Mc Caulay, Hudson menilai Puisi sebagai satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, sebagaimana lukisan menggunakan baris dan warna dalam gagasan pelukisnya.

Mencermati puisi seringkali kita diajak melihat ilusi tentang keindahan dan angan-angan, sejalan dengan penataan unsur bunyi, penciptaan gagasan, dan suasana tertentu saat membacanya.

Lalu apakah sajak itu?  Penyair Boris Pasternak menjelaskannya dalam sajaknya, “Batasan Sajak” berikut ini:

Sajak adalah siul melengking suram
Sajak adalah gemertak kerucut salju beku
Sajak adalah daun-daun menges sepanjang malam
Sajak adalah dua ekor burung malam menyanyikan duel
Sajak adalah manis kacang kapri mencekik mati
Sajak adalah air mata dunia diatas bahu

Berbeda dengan Boris Pasternak, Chairil Anwar memandang sajak sebagai suatu alat kemana ia menuju setelah lari dari gedong lebar halaman, dan ketika tersesat tak dapat jalan.

Sebuah sajak pada hakekatnya mengundang kita berasosiasi. Sajak tidak berinterpretasi, bertafsir-tafsir, sedang Puisi mengundang kita lebih pada imajinasi dan interpretasi yang mungkin berbeda bagi setiap pembacanya.

Sajak adalah sebuah puisi yang berdiri sendiri atau sifatnya individual. Makna dari sajak pun lebih luas ketimbang puisi. Yang membuatnya demikian adalah karena sajak lebih berkaitan dengan bunyi pada kalimat di dalamnya.

Di dalam sajak, kata demi kata memberikan konotasi yang sama atau mirip, sehingga ada kesatuan makna yang dapat ditarik dalam satu larik sajak.

Contohnya sepenggal sajak dari WS Rendra yang berjudul “Orang-orang Miskin”:

“Orang-orang miskin di jalan, yang tinggal di dalam selokan, yang kalah di dalam pergulatan, yang diledek oleh impian, janganlah mereka ditinggalkan.”

Pada sebait sajak tersebut, Rendra memberikan satu garis makna tentang orang miskin. Kata-kata seperti jalan, selokan, pergulatan, impian, dan ditinggalkan merupakan realita yang umumnya dihadapi orang miskin jalanan. Kita pun dapat menarik kesatuan makna dari sajak itu.

Sedangkan puisi, merupakan bentuk karya sastra namun lebih terikat aturan dan  mengandung keindahan seperti dalam sajak, namun lebih bersifat umum karena dapat ditemui dalam cerpen, karangan, atau novel. Bahkan pada narasi film, lirik dalam lagu, dan lain-lain.

Penyair menggunakan puisi sebagai bagian dari proses menggunakan kata dan bahasa untuk membangkitkan perasaan dan pemikirannya.

Penyair menciptakan puisi sebagai bentuk mengekspresikan diri melalui metafora, simbol, dan ambiguitas.

Puisi dapat diterapkan pada banyak medium seperti yang telah disebutkan di atas: cerpen, karangan, novel, film, lagu, dan lain-lain.

Berdasarkan pengungkapan kata-katanya, puisi mengungkapkan makna secara implisit, secara samar, dan hanya sekedar tersirat. Kata-kata yang digunakan secara dominan menggunakan majas atau cenderung memiliki arti konotatif.

Penggunaan arti konotatif dalam puisi ini mengundang pembaca untuk berimajinasi sesuai interpretasi mereka masing-masing.

Puisi sering memberikan ilusi kepada pembaca tentang keindahan, membawa pembaca dalam angan-angan, menciptakan suatu gagasan sesuai suasana ketika membaca puisi.

Contoh puisi WS Rendra, “Mata Hitam”.

Dua mata hitam adalah matahati yang biru
dua mata hitam sangat kenal bahasa rindu.
Rindu bukanlah milik perempuan melulu
dan keduanya sama tahu, dan keduanya tanpa malu.

Dua mata hitam terbenam di daging yang wangi
kecantikan tanpa sutra, tanpa pelangi.
Dua mata hitam adalah rumah yang temaram
secangkir kopi sore hari dan kenangan yang terpendam

WS Rendra (foto: ist/palontaraq)
WS Rendra (foto: ist/palontaraq)

Dalam hal pengungkapan kata, sajak secara dominan dipengaruhi oleh unsur lagu, irama, keharmonisan bunyi. Makna yang disampaikan dalam sajak tidak hanya secara tersirat tetapi menyangkut keseluruhan isi.

Berikut sajak karya Affrini Adham dalam sajaknya “Malaya Pasti Merdeka”.

Keseluruhan dari keadaan dan kenyataan
keseluruhan dari kesanggupan dan kebenaran
keseluruhan dari kemungkinan dan kepastian
perpaduan – pendirian – pengorbanan dan perjuangan
-telah benar-benar membangunkan kepercayaan
-telah benar-benar menimbulkan harapan
“Bahwa kemerdekaan yang sekian lama kita perjuangkan
telah dekat – mendekati kita
telah tegas dan nyata
terbayang di hadapan mata
Malaya! Pasti merdeka”.
Kita pasti merdeka!
Kita adalah manusia berbangsa dan bernegara!
Kita bukan boneka!
Kita pasti merdeka
di atas “hak pertuanan” kita
selaras dengan kemerdekaan di mana-mana
sebagai manusia-manusia lain yang berbangsa dan punya negara
Malaya pasti merdeka –
di atas keseluruhan – hak-hak kenegaraannya.

Puisi (terutama puisi lama) terikat pada aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata dan rima.

Bahkan puisi (lama) cenderung terlihat sangat kaku karena keterikatannya terhadap aturan yang ada. Contoh “Syair Pendidikan” berikut:

Wahai engkau para pemuda,
Engkaulah pewaris bangsa,
Giatlah belajar sepanjang masa,
Untuk membangun bangsa negara,
Ilmu bukanlah untuk harta semata,
Ilmu tak akan lekang oleh usia,
Sebab ilmu akan membuatmu terjaga,
Dan ilmu akan membuatmu dewasa,
Belajarlah tanpa malas,
Hormatilah semua penghuni kelas,
Masa depan perlu kerja keras,
Kalau perlu energi terkuras,
Hormatilah para guru,
Pandanglah sebagai orang tuamu,
Ilmu senantiasa akan masuk dalam kalbu,
Bersama berkah untuk jiwamu.

Sajak merupakan karya sastra yang tidak terlalu terikat dengan aturan-aturan seperti pada puisi (lama).

Karya sastra sajak juga mementingkan keselarasan bunyi sehingga sajak lebih dikenal sebagai persamaan bunyi.

Contohnya:

Malam itu
Terdengar lagi tangisan sendu
Siapakah beliau
Untaian kata memecah kalbu
Derap langkah tanpa tersipu
Jantung ini terus menderu
Oh Ibu..
Sujudmu
Doamu
Kenapa selalu untukku
Anakmu.

Demikianlah perbedaan Sajak dan Puisi. Semoga dapat dipahami dan bermanfaat adanya. (*)

 

Etta Adil adalah nama pena sekaligus nama panggilan dari M. Farid W Makkulau, telah menelorkan beberapa karya buku, antara lain: HA Gaffar Patappe-Demimu Rakyat Pangkep (Pemkab Pangkep, 2003), Pikiran dan Kebijakan Ir. H. Syafrudin Nur, M.Si (Pemkab Pangkep, 2006), Sejarah dan Kebudayaan Pangkep (Infokom, 2007), Manusia Bissu (Pustaka Refleksi, 2008), Sejarah Kekaraengan di Pangkep (Pustaka Refleksi, 2008), Komik-Kisah si Lemo Lestarikan Terumbu Karang (Dislutkan/Coremap, 2009), Syahrul Yasin Limpo-Sulsel Go Green “Menjaga Lingkungan Menuai Rahmat” (Citra Pustaka, 2012), Syamsuddin A. Hamid-Mata Kalbu Sahabat (Citra Pustaka, 2013), Antologi Puisi-Penjara Suci (Pustaka Puitika, 2015), Surat Cinta untuk Bidadari Kecilku di Surga (Pustaka Puitika, 2015), Antologi Puisi-Menjawab Waktu (Guepedia, 2020), Berkebudayaan Malu-Sehimpun Catatan Budaya Bugis Makassar (Guepedia, 2020).

Pada Tahun 2017, Penulis sebagai LCO (Local Community Organizer) CSR PT. Semen Tonasa meraih Penghargaan “Terbaik 1” Tingkat Nasional dalam Indonesian Sustainable Development Goals Award 2017 (ISDA 2017) dengan judul Karya Tulis “Perubahan Sosial Tidak Mungkin Terjadi Tanpa Pendampingan” (HAKI 078550) untuk Kategori Perseorangan Tingkat Lapangan CSR Best Practice for MDGs to SDGs dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas RI.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here