Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
PALONTARAQ.ID – Bisakah Jurnalis menjadi sejarawan dan adakah contohnya jurnalis yang menjadi sejarawan? Mengapa pertanyaan ini diajukan? Ya, salah satu sebabnya karena ada banyak fakta di lapangan, banyak jurnalis senior memang menjadi sejarawan dan menulis banyak fakta sejarah dalam kerja-kerja jurnalistiknya, tanpa sang jurnalis pernah kuliah di jurusan sejarah.
Ya, seorang jurnalis bisa saja menjadi sejarawan, dan sebenarnya, ada banyak sinergi antara kedua profesi jurnalis dan sejarawan tersebut. Jurnalisme dan sejarah sama-sama melibatkan penelitian, analisis informasi, verifikasi fakta, dan penyampaian narasi.
Berikut beberapa alasan mengapa jurnalis sering memiliki bekal yang kuat untuk menjadi sejarawan:
- Kemampuan Riset dan Verifikasi: Jurnalis terlatih untuk menggali informasi dari berbagai sumber, melakukan wawancara, dan memverifikasi kebenaran fakta dengan cepat dan akurat. Kemampuan ini sangat krusial dalam penelitian sejarah.
- Keterampilan Bercerita (Narasi): Jurnalis adalah pencerita. Mereka tahu cara menyusun informasi yang kompleks menjadi narasi yang mudah dipahami dan menarik bagi audiens. Ini adalah aspek penting dalam penulisan sejarah yang baik.
- Kepekaan terhadap Konteks: Jurnalis sering kali harus memahami konteks politik, sosial, dan budaya dari suatu peristiwa. Kepekaan ini juga dibutuhkan untuk menganalisis peristiwa sejarah secara mendalam.
- Akses ke Sumber Primer: Dalam beberapa kasus, jurnalis bisa menjadi saksi mata sejarah atau memiliki akses langsung ke individu-individu yang membuat sejarah, yang kemudian bisa menjadi sumber primer berharga di masa depan.
- Objektivitas (Idealnya): Meskipun jurnalisme modern sering dikritik, idealnya jurnalisme menekankan objektivitas dan penyajian fakta tanpa bias, sebuah prinsip yang juga sangat ditekankan dalam historiografi.
Perbedaannya mungkin terletak pada fokus waktu dan kedalaman analisis. Jurnalis cenderung fokus pada peristiwa terkini atau baru saja terjadi dengan batas waktu yang ketat, sementara sejarawan memiliki kemewahan waktu untuk menggali lebih dalam, menganalisis jangka panjang, dan melihat pola-pola yang lebih besar. Namun, keterampilan dasar dan pola pikirnya sangat mirip.
Contoh Jurnalis yang Menjadi Sejarawan (atau Menggabungkan Keduanya)
Ada banyak tokoh yang karier mereka berada di persimpangan jurnalisme dan sejarah. Berikut beberapa contoh terkenal:
- Doris Kearns Goodwin (Amerika Serikat): Salah satu sejarawan kepresidenan paling terkenal di AS. Sebelum menjadi sejarawan pemenang Hadiah Pulitzer, ia memulai kariernya sebagai jurnalis dan asisten di Gedung Putih. Kemampuan jurnalisme risetnya sangat terlihat dalam buku-buku sejarahnya yang mendalam tentang Abraham Lincoln, Franklin D. Roosevelt, dan lainnya.
- David Halberstam (Amerika Serikat): Seorang jurnalis pemenang Hadiah Pulitzer yang terkenal karena liputannya tentang Perang Vietnam. Setelah karier jurnalisme yang panjang, ia menulis beberapa buku sejarah non-fiksi yang sangat berpengaruh, seringkali dengan fokus pada politik, perang, dan masyarakat Amerika. Karyanya menggabungkan investigasi jurnalisme dengan analisis historis.
- John Hersey (Amerika Serikat): Seorang jurnalis dan penulis yang karyanya sering dianggap sebagai jurnalisme naratif historis. Karyanya yang paling terkenal, “Hiroshima,” adalah laporan jurnalistik mendalam tentang dampak bom atom, yang kini menjadi salah satu dokumen historis primer yang paling penting tentang peristiwa tersebut.
- Sebastian Haffner (Jerman): Seorang jurnalis dan penulis politik terkemuka di Jerman abad ke-20. Ia menulis beberapa buku sejarah tentang Jerman, khususnya tentang masa Hitler dan Perang Dunia II, yang sangat berpengaruh. Perspektifnya sebagai jurnalis yang hidup di masa itu memberikan nuansa unik pada analisis historisnya.
- Ahmad Syafi’i Maarif (Indonesia): Meskipun lebih dikenal sebagai intelektual Muslim dan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif juga seorang sejarawan yang produktif dan banyak menulis tentang sejarah Islam dan Indonesia. Latar belakangnya sebagai pemikir publik dan jurnalisme opini seringkali tercermin dalam gaya penulisannya yang lugas dan analitis.
Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa kemampuan yang diasah dalam jurnalisme—seperti riset mendalam, verifikasi fakta, dan penyusunan narasi yang menarik—merupakan aset berharga bagi siapa pun yang ingin berkarier sebagai sejarawan.
Demikian sedikit catatan tentang jurnalisme dan sejarah dalam banyak prakteknya di lapangan menemukan titik temu, sehingga tak mengherankan jika didapati terjadi metamorfosis seorang jurnalis menjadi sejarawan, atau bahkan budayawan sekaligus.
Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, mantan Jurnalis yang menulis Buku Sejarah Daerah.



