Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
PALONTARAQ.ID – Buku “Sekolah Biasa Saja” karya Toto Rahardjo adalah sebuah karya yang mengajak kita untuk merenung kembali tentang konsep sekolah dan pendidikan secara umum. Toto Rahardjo, melalui buku ini, mengajak kita untuk melihat bahwa sekolah yang sebenarnya adalah tempat yang sederhana, tempat di mana manusia belajar tentang kehidupan.
Deskripsi Buku:
Judul Buku: Sekolah Biasa Saja
Penulis: Toto Rahardjo
Jumlah Halaman: xviii + 200 halaman
Cetakan: Ketiga, Agustus 2019
Penerbit: INSIST Press
ISBN: 978-602-0857-85-5

Komentar-komentar:
“Buku ini turut memperkaya literatur praktik pedagogi kritis, sebuah sumbangan teoritis dan praksis bagi pedagogi ala Freirean di Indonesia. Buku yang bercerita mengenal sekolah biasa saja yang sejatinya luar biasa” (Edi Subkhan, Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang dan Pengelola Rumah Buku Simpul Semarang)
“Di sini pendidikan anak menjadi salah satu simpul dalam jaringan kehidupan komunitas: simpul yang teramat penting karena menjadi tempat belajar bagi anak-anak, orangtua mereka, orang dewasa yang menjadi fasilitator dan menyelenggarakan administrasi, dan bagi orang seperti saya, pemerhati dan praktisi pendidikan dari berbagai penjuru”. (Dr. Sylvia Tiwon, Pengajar di Universitas Berkeley, Amerika Serikat).
“Buku ini diperlukan oleh siapa saja yang pernah sekolah, agar bisa mengoreksi daya nalar, karena sejatinya proses sekolah berlangsung sepanjang hayat, tinggal bagaimana proses belajar itu bisa bermakna positif bagi kehidupan, bukan untuk menjadi budak yang memenuhi industri semua”. (Butet Manurung, Pendiri Sokola Rimba).
Apa yang Membuat Buku Buku “Sekolah Biasa Saja” karya Toto Rahardjo Istimewa?
Pertama, Kritik terhadap Sistem Pendidikan Konvensional. Buku ini memberikan kritik tajam terhadap sistem pendidikan yang terlalu terpaku pada angka, ujian, dan kurikulum yang kaku. Toto Rahardjo mengajak kita untuk keluar dari kotak-kotak yang membatasi kreativitas dan potensi siswa.
Kedua, Fokus pada Proses, Bukan Hasil. Sekolah Biasa Saja menekankan pentingnya proses belajar, bukan hanya hasil akhir yang berupa nilai. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang melibatkan seluruh aspek kehidupan siswa.
Ketiga, Koneksi dengan Alam dan Masyarakat. Buku ini mengajak kita untuk kembali ke akar, yaitu belajar langsung dari alam dan masyarakat. Sekolah tidak hanya sebatas ruang kelas, tetapi juga lingkungan sekitar yang kaya akan pengetahuan.
Keempat, Inspirasi dari Sanggar Anak Alam (SALAM). Banyak ide dan konsep yang dibahas dalam buku ini berasal dari pengalaman Toto Rahardjo dalam mengelola Sanggar Anak Alam, sebuah komunitas belajar yang unik dan inspiratif.
Pesan Utama Buku karya Toto Rahardjo ini sebenarnya adalah penegasan bahwa Sekolah adalah Kehidupan. Sekolah seharusnya menjadi cerminan kehidupan yang nyata, di mana siswa belajar untuk berinteraksi, berkolaborasi, dan memecahkan masalah.
Sekolah juga tak seharusnya ada pembatasan tingkatan dan usia belajar. Belajar itu mestinya Sepanjang Hayat. Proses belajar tidak berhenti setelah lulus sekolah. Sekolah seharusnya menanamkan semangat belajar sepanjang hayat pada siswa.
Yang lebih penting dari sekolah itu adalah hadirnya Keterampilan Hidup. Selain pengetahuan akademik, siswa juga wajib memiliki keterampilan hidup seperti: keterampilan komunikasi, kreativitas, serta kemampuan berpikir kritis.
Buku “Sekolah Biasa Saja” telah menginspirasi banyak pendidik, orang tua, dan masyarakat untuk meredefinisi pendidikan. Buku ini telah memicu diskusi yang lebih luas tentang bagaimana kita dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih humanis dan relevan dengan kebutuhan siswa.
Terakhir, Buku “Sekolah Biasa Saja” adalah sebuah karya yang mengajak kita untuk berpikir ulang tentang pendidikan. Buku ini menyajikan alternatif yang segar terhadap sistem pendidikan konvensional. Dengan membaca buku ini, kita akan diajak untuk merenungkan kembali peran sekolah dalam membentuk generasi masa depan.
Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri dapat menjumpai buku ini, lewat perantaraan Ibu Henny Girarda dari Yayasan Cahaya Guru (YCG). Setelah membacanya dan menyadari pentingnya menata ulang persepsi kita terhadap sekolah, penulis merekomendasikan buku ini dapat menjadi bahan bacaan bagi guru dan tenaga pendidik lainnya. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru di Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.



