Buku Karya Etta Adil, Surat Cinta untuk Bidadari Kecilku di Surga. (Pustaka Puitika, 2015)
Buku Karya Etta Adil, Surat Cinta untuk Bidadari Kecilku di Surga. (Pustaka Puitika, 2015)

 

Oleh: Etta Adil

Related Post: Ikatlah Ilmu dengan Menulis

PALONTARAQ.ID – Adakah diantara teman, sahabat, dan pengunjung setia Rumah Baca Palontaraq sekalian yang bercita-cita menjadi penulis? Atau adakah diantara kalian yang mengimpikan suatu saat menerbitkan buku karya sendiri?

Profesi sebagai penulis saat ini tengah naik daun? Mengapa hal itu bisa terjadi? Salah satunya disebabkan karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang terus berkembang, mudah dan memudahkan seseorang mengakses penerbit dan percetakan buku.

Nah, menjadi penulis saat ini tidak sesulit dahulu lagi, dan bahkan saat ini teman dan sahabat sekalian bisa menerbitkan buku sendiri. Sebutan penerbit yang melayani hal tersebut disebut penerbit indie.

Buku Karya Etta Adil, atau M. Farid W Makkulau. (foto: ist/palontaraq)
Buku Karya Etta Adil, atau M. Farid W Makkulau. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula: Buku adalah Award bagi Penulisnya

Nah, apa sajakah keuntungan yang bisa kita dapatkan dengan menjadi penulis? Berikut ini beberapa keuntungannya, semoga dapat meningkatkan motivasi untuk terus berkarya, menulis dan menelorkan buku.

Beberapa keuntungan yang akan didapatkan bagi seorang penulis adalah:

Satu, Memperluas Wawasan

Sebagai seorang penulis, tentu harus banyak membaca, mengakses informasi dan pengetahuan lebih banyak, mahir dalam berbahasa dan mengolah kata, sehingga dengan demikian memperluas wawasan dengan sendirinya.

Buku Biografi HA Gaffar Patappe yang pernah ditulis Etta Adil, Tahun 2004. (foto: ist/palontaraq)
Buku Biografi HA Gaffar Patappe yang pernah ditulis Etta Adil dan Asdar Muis RMS, Tahun 2003 dan 2004. (foto: ist/palontaraq)

Bagaimana tidak, setiap kali menulis, tentu harus berusaha mencari informasi yang lengkap, membaca referensi lebih banyak dan terus aktif berpikir. Seorang penulis yang baik adalah pembaca yang hebat.

Lihat pula: Menulis sebagai Terapi Kejiwaan

Kedua, Mengetahui Gaya Penulis

Setiap penulis memiliki gaya sendiri dalam berkarya. Seiring bertambahnya jam terbang, jumlah karya dan ragam karya tulis yang dihasilkan.

Bagi penulis pemula, mungkin masih meniru gaya tulisan orang lain. Semua penulis pemula juga seperti itu. Seiring berjalannya waktu, seorang penulis dapat menemukan gaya kepenulisan sendiri dan bisa jadi gabungan dari beberapa penulis yang diakrabi bukunya.

Buku "Manusia Bissu" karya Etta Adil (M. Farid W Makkulau)
Buku “Manusia Bissu” karya Etta Adil (M. Farid W Makkulau)

Lihat pula: Berpikir bebas, Menulis lepas

Ketiga, Menambah income

Saat ini banyak penulis yang mampu meraih penghasilan pasif income dari hasil tulisan dan karya mereka.

Ada banyak jalan bagi penulis untuk menambah penghasilan, baik menulis di blog (Blogger), jadi content writer, copy writing atau menulis artikel di koran/majalah, mengikuti lomba menulis esai dan fiksi, dan tentu saja lewat menulis buku.

Lihat pula: Menulislah dan Engkau akan Bisa biayai Dirimu sendiri

Keempat, Melatih Komunikasi

Sebenarnya menulis itu sama saja dengan berbicara ketika bertemu orang lain. Itulah sebabnya mengapa banyak penulis yang mengatakan gaya menulis dapat dipengaruhi atau mempengaruhi pembacanya, sebagaimana halnya seorang orator mempengaruhi audiensnya.

Buku "Sejarah Kekaraengan di Pangkep" karya Etta Adil (M. Farid W Makkulau).
Buku “Sejarah Kekaraengan di Pangkep” karya Etta Adil (M. Farid W Makkulau).

Pekerjaan penulis adalah berkomunikasi dalam bahasa tulis. Semakin sering menulis, maka kemampuan komunikasi penulis akan menjadi lebih baik.

Tak percaya? Coba saja rajin menulis tentang suatu topik atau bidang tertentu, lalu coba terangkan ulang kepada orang lain atau kepada pembaca.

Lihat pula: Menulis sebagai Interaksi Sosial

Kelima, Memperluas Pertemanan dan Relasi

Profesi Penulis dengan sendirinya akan menambah dan memperluas jaringan pertemanannya, khususnya kepada pembacanya. Menambah relasinya dengan penerbit dan percetakan, dan segala keahlian yang terkait proses penerbitan buku.

Profesi Penulis juga akrab dengan dunia akademik. Bayangkan jika seorang penulis dibaca karyanya di kampus, dikuliahkan materi bukunya, diseminarkan, dan pada akhirnya diundang di banyak acara, yang nuansanya adalah penghargaan terhadap karya dan pengetahuan.

Buku "Sejarah Kekaraengan di Pangkep" karya Etta Adil (M. Farid W Makkulau).
Buku “Sejarah Kekaraengan di Pangkep” karya Etta Adil (M. Farid W Makkulau).

Lihat pula: Saya Menulis, maka Saya (masih) Ada!

Nah, teman dan sahabat sekalian. Apa salahnya meluangkan waktu untuk menulis di kala senggang. Mulailah menulis, satu-dua lembar perhari, satu-dua buku yang dibaca perhari, maka lama kelamaan akan membuka wawasan dan pengetahuan untuk mencoba menulis.

Jangan mau jadi penulis instan. Belajarlah melewati proses, dari memahami kata dan kalimat, membaca banyak referensi, mengakses dan mengolah informasi dengan bernas, dan kemudian mulai menulis. Pelajari semua teknik menulis dan pilih bidang atau topik tertentu sesuai dengan kompetensi dan keahlianmu.

Ingat: Good writer is a best reader, Penulis yang baik adalah pembaca yang hebat.

Ungkapkan Cinta dengan Mata Kata

Acuhkan Status Medsos, Menulislah di Blog

Tips Menulis Cerita Pendek

Menulis: Kebutuhan untuk Berkembang

Demikian yang dapat penulis bagi untuk Pengunjung setia Rumah Baca Palontaraq sekalian. Semoga bermanfaat adanya. (*)

 

Tentang Penulis

Etta Adil, adalah nama pena dari M. Farid W Makkulau, adalah seorang penulis dan guru. Telah melahirkan lebih dari 40 karya buku dan ratusan artikel dalam berbagai bidang dan topik. Saat ini masih aktif menulis di berbagai media lokal dan nasional. Penulis dapat dihubungi via email: palontaraq@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here