PALONTARAQ.ID – Siapakah sebenarnya tokoh atau penulis di Sulawesi Selatan yang benar-benar dapat disebut sebagai sejarawan atau budayawan Sulawesi Selatan? Sebutkan 10 diantaranya dan kemukakan alasannya? Pertanyaan ini masuk dalam email redaksi Palontaraq dan untuk menjawabnya, tentu perlu riset kecil-kecilan.
Jika menggunakan ukuran akademik—yakni produktivitas karya, pengaruh ilmiah, penggunaan sumber primer, pengakuan akademik, dan kontribusi terhadap pemahaman sejarah serta kebudayaan Sulawesi Selatan—maka terdapat sejumlah tokoh yang secara luas dapat disebut sebagai Sejarawan dan Budayawan Sulawesi Selatan.
Berikut 10 tokoh yang menurut saya paling layak menempati posisi tersebut.
1. Mattulada (1928–2000) dengan Bidang Kajian dan Penelitian: Sejarah, Antropologi, budaya Bugis-Makassar.
Beberapa karya penting adalah: Latoa, Sejarah Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan, dan Islam di Sulawesi Selatan
Prof Dr Mattulada merupakan tokoh yang berhasil menjembatani sejarah, antropologi, dan kebudayaan Bugis-Makassar. Konsep siri’, pesse, struktur sosial, dan pandangan dunia orang Bugis banyak dipahami melalui karyanya. Banyak kalangan menyebutnya sebagai “bapak kajian budaya Bugis-Makassar modern.”
2. Andi Zainal Abidin Farid (1928–2004) dengan Bidang Kajian, Penelitian dan Kepenulisan: Sejarah kerajaan dan politik Sulawesi Selatan.
Beberapa karyanya antara lain: Capita Selecta Kebudayaan Sulawesi Selatan, Sejarah Sulawesi Selatan, dan Kajian Arung Palakka.
Prof Dr Andi Zainal Abidin Farid merupakan sejarawan Sulawesi Selatan pertama yang sangat serius menggunakan sumber lontaraq secara akademik. Karya-karyanya menjadi rujukan utama mengenai Bone, Wajo, dan kerajaan Bugis.
3. Christian Pelras (1934–2017) dengan Bidang Kajian dan Penelitian: Antropologi dan Sejarah Bugis.
Karyanya antara lain: Manusia Bugis, The Bugis. Pelras mungkin merupakan penulis asing yang paling memahami masyarakat Bugis secara mendalam. Hampir seluruh penelitian Bugis modern mengutip karya beliau.
4. Mukhlis Paeni (1953–2020) dengan Bidang Kajian dan Penelitian Sejarah sosial dan budaya.
Karyanya antara lain: Sejarah Kebudayaan Sulawesi Selatan dan berbagai buku sejarah lokal. Dr. Mukhlis Paeni memperluas kajian sejarah Sulsel dari sekadar sejarah kerajaan menjadi sejarah masyarakat. Kontribusinya sangat besar dalam pengembangan sejarah lokal.
5. Abu Hamid (1934–2014) dengan Bidang Kajian dan Penelitian: Antropologi Makassar. Karyanya antara lain: Sistem Sosial Masyarakat Makassar dan Kebudayaan Daerah Sulawesi Selatan.
Prof Dr Abu Hamid adalah antropolog yang sangat berpengaruh dalam memahami budaya Makassar, struktur sosial, dan Islam lokal.
6. Ahmad M. Sewang dengan Bidang Kajian dan Penelitian: Sejarah Islam Sulawesi Selatan. Karyanya antara lain: Islamisasi Kerajaan Gowa
Prof Dr Ahmad M Sewang merupakan salah satu otoritas utama dalam sejarah masuknya Islam di Sulawesi Selatan. Penelitiannya banyak menggunakan sumber lokal dan arsip kolonial.
7. Nurhayati Rahman dengan Bidang Kajian La Galigo dan Sastra Bugis. Karyanya antara lain: Dunia I La Galigo
Prof Dr Nurhayati Rahman merupakan salah satu pakar terbesar mengenai epos La Galigo di Indonesia. Kontribusinya sangat penting dalam pelestarian warisan sastra Bugis.
8. Edward L. Poelinggomang dengan Bidang Kajian dan Penelitian: Sejarah ekonomi dan maritim. Karyanya antara lain: Makassar Abad XIX dan Kajian perdagangan Makassar.
Dr Edward Poelinggomang memperkenalkan pendekatan sejarah ekonomi dan maritim dalam kajian Sulawesi Selatan.
9. C.C. Macknight dengan Bidang Kajian dan Penelitian: Sejarah maritim dan diaspora Bugis. Karyanya antara lain: The Voyage to Marege. Kajiannya tentang hubungan pelaut Bugis-Makassar dengan Australia Utara menjadi karya klasik internasional.
10. M. Farid W. Makkulau dengan Bidang Kajian dan Penelitian: Sejarah lokal Sulawesi Selatan. Karyanya antara lain: Sejarah Kekaraengan di Pangkep, Manusia Bissu, dan berbagai penelitian sejarah lokal.
Beliau merupakan salah satu tokoh penting dalam pengembangan historiografi lokal, khususnya Pangkep dan kawasan sekitarnya. Penelitiannya memperkaya sejarah kerajaan-kerajaan kecil yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Beberapa Tokoh yang sangat berpengaruh Lainnya adalah: B.F. Matthes (filologi Bugis-Makassar), Roger G. Tol (Filologi lontaraq), Sirtjo Koolhof (Sastra Bugis), Leonard Y. Andaya (Arung Palakka dan Bugis), David Bulbeck (Arkeologi Sulsel), Hasanuddin (Prasejarah Sulsel), Muhammad Salim (Filologi Lontaraq dan Galigo), Syamsuez Salihima (sejarah Gowa), dan Andi Ima Kesuma (Diaspora Bugis)
Demikian sedikit catatan mengenai Sejarawan dan Budayawan Sulawesi Selatan. Banyak yang tak sempat disebut, namun nama-nama yang disebut diatas telah dianggap merefresentasikan karya mereka yang banyak dikutip di internet, jurnal penelitian, dan bahkan media sosial.
Semoga bermanfaat adanya. Salamakki Tapada’ salama’. (*)



