Buku Lontara Rindu
Buku Lontara Rindu

Oleh: Kak Farid

Judul Buku: Lontara Rindu
Penulis: S. Gegge Mappangewa
Penerbit: Republika
ISBN: 978-602-7595-01-9

PALONTARAQ.ID – Hi, sahabat pustaka, kali ini kakak akan perkenalkan, seorang penulis asal Makassar, Sulawesi Selatan.

Kakak yang satu ini, namanya S. Gegge Mappangewa, seperti itulah nama lengkap yang dituliskannya dalam buku karyanya, “Lontara Rindu”.

Oh iya, buku ini oleh Republika ditetapkan sebagai novel terbaik loh.

Penasaran bagaimana isi buku dan jalan ceritanya, mending langsung aja dicek di Rumah Baca Palontaraq.

Sebuah perjuangan merangkai kata, mengulas cerita dan menanamkan makna telah dicapai puncaknya oleh Kak S. Gegge Mappangewa yang tak lain adalah Sabir, ST, seorang guru yang setiap hari merawat masa depan anak didiknya.

Novel berjudul Lontara Rindu ini adalah peraih penghargaan terbaik pertama “Lomba Novel Republika 2011”.

Novel “Lontara Rindu” telah merekam dengan baik kisah Vito dan Vina, dua saudara kembar yang terpaksa harus terpisah karena perceraian orang tuanya.

Vito tinggal bersama ibunya, sedangkan Vino dibawa ayahnya. Rindu yang membuncah membuat Vito harus mencari ayahnya di Perrinyameng, Amparita, belasan kilometer dari kampungnya di daerah pegunungan.

Penulisnya S Gegge Mappangewa telah berhasil mengajak pembaca menelusuri latar kampung dengan tradisi unik khas daerah Sidenreng Rappang, dimana kehormatan keluarga adalah hal yang harus diperjuangkan.

Diceritakannya, Ayah Vito pergi ketika Vito masih kecil. Beda keyakinan membuat kakeknya tak bisa menerima ayahnya, sehingga ibunya dulu harus mengorbankan kehormatan keluarga, kabur dari rumah demi ayah Vito itu.

Vito adalah anak yang terluka dan ketika memasuki usia SMP ia kerap bertanya mengapa sang ayah meninggalkannya.

Peresensi bersama Novelis S.Gegge Mappangewa (kiri), penulis "Lontara Rindu". (foto: ist/palontaraq)
Bersama Novelis Kak S.Gegge Mappangewa (kiri), penulis “Lontara Rindu”. (foto: ist/palontaraq)

Inilah kisah pencarian sekaligus kehangatan keluarga siswa SMP itu di masa belianya di Cenrana, Panca Lautang, Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, di masa kemarau panjang mendera.

Di tengah upaya diam-diamnya mencari ayah, Vito dan teman-temannya mendapatkan ajaran moral Islami dari Pak Guru Amin yang sering bercerita tentang kisah-kisah masa lampau yang tercatat di lontara.

Namun di kemudian hari Pak Amin harus menerima kenyataan pahit ketika warga menuduhnya telah menyebarkan fanatisme agama.

Berhasilkah Vito menemukan Vino dan ayahnya? Bagaimana nasib hubungan kedua orangtuanya?

Masihkah ayah Vito menganut kepercayaan leluhurnya. Kisah Vito dan kawan-kawan ini banyak menghadirkan tangis dan tawa hingga akhir cerita.

Sebuah romantika hidup penuh makna dan inspirasi bagi pembacanya. Tak terkecuali bagi peresensi, yang berkesempatan dipertemukan di ruang pelatihan menulis dan bisa sharing tentang dunia kepenulisan.

Bagi peresensi, buku sangat layak dibaca, bernas dan bergizi, terlebih lagi telah melewati kawah candradimukanya penilaian karya novel tingkat nasional.

Peresensi sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca dan digali makna kedalaman dari penceritaan kisah Vito dan Vina dalam “Lontara Rindu” ini.

Selamat membaca. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here