Mencari Ilmu seperti Mencari air
Mencari Ilmu seperti Mencari air

 

Oleh: Kak Farid

Hi, sahabat Palontaraq.

Adakah niat dan tekad kuat di dalam diri kita untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala?

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya:
“… Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. Al Mujaadilaah: 11)

Nah, sahabat palontaraq,

Ilmu itu ada yang seperti mata air. Kita yang harus mendatanginya. Bisa dekat bisa jauh. Ada ilmu yang seperti air hujan. Ilmu itu yang mendatangi kita. Ada pula ilmu yang seperti air PAM/PDAM. Baru bisa diperoleh jika membayar.

Kata Imam Ibnu Khaldun rahimahullah, bagi seseorang yang ingin mendapatkan berkah, maka dia tidak akan peduli bagaimana cara ilmu itu diraih. Dia akan siap berkorban apapun demi meraih keberkahan dan kenikmatan ilmu.

Ilmu itu harus diperoleh dengan berkorban dan bersungguh-sungguh. Berkorban tenaga untuk mendatangi majelis ilmu itu, berkorban waktu untuk menghadiri majelis ilmu, dan bahkan berkorban harta akan terasa ringan untuknya yang penting ilmu tersebut didapatkan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

Artinya:
“Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

لَا يَصْلُحُ طَلَبُ الْعِلْمِ إِلَا لِمُفْلِس

Artinya:
“Tidak layak bagi orang yang menuntut ilmu kecuali orang yang siap miskin/bangkrut” (Al-Jami’ liakhlaqir rawi, 1/104 no. 71, Maktabah Ma’arif, Riyadh, Syamilah)

Ibnu ‘Adi berkata mengisahkan tentang Yahya Ibnu Ma’in,

كان معين على خراج الري، فمات، فخلف ليحيى ابنه ألف ألف درهم، فأنفقه كله على الحديث حتى لم يبق له نعل يلبسه.

Artinya:
“Ma’in [Ayah Yahya Ibnu Ma’in] terkena radang tenggorokan, kemudian meninggal, ia mewariskan untuk Yahya Ibnu Ma’in sebanyak 1.000.000 dirham, maka ia habiskan seluruhnya untuk mencari hadits sampai-sampai tidak ada yang tersisa kecuali sandal yang ia pakai.” (Siyar A’lam An-Nubala 21/85, Muassasah Risalah, syamilah)

Nah, sahabat palontaraq,

Bagaimana dengan diri kita? Sudah sebesar apa perjuangan dan pengorbanan kita untuk bisa memahami ilmu (agama)?

Mungkin Ada Berkah Yang Hilang Dari Ilmunya. Kadangkala, ada teman atau sahabat kita yang sudah sering ikut seminar pengembangan diri dari yang murah sampai mahal. Bahkan sudah malas ikut kegiatan yang gratis atau tiketnya puluhan ribu, maunya yang berkelas, investasi (tiket) ratusan ribu sampai jutaan.

Sudah sering bawa materi dan tampil di depan umum, tapi tidak minat kalau pesertanya sedikit, belum lagi kalau bayarannya “rendah”. Katanya tidak sebanding dengan “ilmu” yang dimilikinya.

Kalau ada pemateri lain yang tampil, dirinya sudah jago menilai bagus tidaknya retorika dan ilmu narasumber lain. Bahkan baru lihat iklan acara, dirinya sudah seolah-olah mengetahui kualitas pemateri lain.

Tapi ternyata, dengan semua ilmu itu dia belum berani memandirikan dirinya. Berusaha sendiri mencari penghidupan sendiri. Melepaskan diri dari pemberian orang tuanya. Setiap bulan masih “mengemis” kiriman.

Sabar Terhadap Guru

Jika ingin meraih banyak berkah ilmu, maka biasakanlah bersabar atas seorang guru (dosen, pemateri, narasumber, ustadz, motivator, trainer, dan lain-lain)

⭕ Bersabarlah atas tugas-tugas yang diamanahkannya. Jangan banyak mengeluh.

⭕ Bersabarlah atas hukuman-hukuman yang diberikannya. Terimalah dengan lapang dada

⭕ Bersabarlah jika saat mengajar suaranya datar dan kecil, retorikanya biasa-biasa saja.

⭕ Hormatilah guru, ketika di depannya dan jangan mencela di belakangnya. Guru tersebut mungkin tidak mendengar, tapi Allah Maha Mendengar. Malaikat pun senantiasa mencatat apa yang kita lakukan.

Umar bin Khattab mengatakan,

تواضعوا لمن تعلمون منه

Artinya:
“Tawadhulah kalian terhadap orang yang mengajari kalian”

DR. Umar As-Sufyani Hafidzohullah mengatakan, “Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, atau tidak dapat menyebarkan ilmunya. Itu semua contoh dari dampak buruk.”

Fokuslah mencari kebaikan dan hikmah dari ilmu yang diberikan seorang guru. Jangan fokus mencari kelemahan dan sibuk menilai kekurangan yang dimiliki sang guru.

Doakan guru-guru yang sudah memberi kita ilmu, meski kita merasa sangat sedikit ilmu yang bisa diberikannya.

Lebih berkah lagi, pelajari dan amalkan adab guru dan murid. Insyaa Allah Penuh Berkah.

“Puncak dari ketinggian adab adalah saat engkau diam dan mendengarkan seseorang yang sedang berbicara kepadamu tentang sesuatu yang engkau ketahui dengan baik sementara dia tidak menguasainya”

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here