Ilustrasi - Anak-anak usia sekolah di Raja Ampat, Papua. (kredit foto: lifestyle.okezone)
Ilustrasi - Anak-anak usia sekolah di Raja Ampat, Papua. (kredit foto: lifestyle.okezone)

Oleh: Usep Saepul Husna*)

PALONTARAQ.ID – Hari pertama menginjakkan kaki di sebuah sekolah di Pulau Yellu, Raja Ampat, aku sudah dibuat bergidik. Saat itu, dari balik jendela, aku mengintip suasana belajar di dalam kelas. Tiba-tiba aku dibuat terkejut oleh suara keras.

“Itnamsia,” kata seorang pemuda dengan suara agak serak, bangkit dari duduknya. Ia marah pada gurunya.

Mati Kau, kata pemuda tersebut. Tangan kirinya menenteng buku. Matanya tajam. Wajahnya dipenuhi amarah. Pintu kelas ia tendang. Ia berjalan keluar, melewati tempat aku berdiri. Masih bisa kudengar dengus nafas amarahnya. Dalam sekejap pemuda itu pun lenyap dari halaman sekolah.

Pemuda berbadan tegap berkulit gelap dengan perawakan tentara itu ternyata masih 12 tahun. Haer namanya. Tingginya lebih dari 165 sentimeter. Badannya kokoh. Otot-ototnya telah terbentuk sempurna. Rambutnya ikal dicukur cepak. Wajahnya oval dengan dagu agak mendongak. Di lehernya melingkar kalung rantai logam, putih memudar. Ia masih kelas V SD.

Menurut informasi yang aku dapat, sudah lama Haer tidak datang ke sekolah. Sekalinya ia datang, ia tidak akan bertahan sampai jam pulang. Selain itu, dengan pengaruhnya ia bisa mengajak murid lain untuk membolos, bahkan sampai minggat dari sekolah.

Jarak dari rumahnya kesekolah hanya sekitar 200 meter saja, tapi selalu ada alasan baginya untuk membolos. Ia anak yang paling bandel di sekolah, tidak pernah menunjukkan perilaku sopan bahkan terhadap guru sekalipun.

Seorang Guru contohnya, pernah ditantang berkelahi karena alasan yang sepele. Malah sampai ada guru yang pernah dipukuli Haer. Belum sehari aku menjadi guru pendamping di SD Yellu, sudah banyak persoalan-persoalan yang kutemukan.

Aku bukan guru profesional. Sarjana pun bukan. Aku memang pernah kuliah kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Tasikmalaya, Jawa Barat, tetapi tidak selesai. Aku lebih suka tinggal di pedalaman Tasikmalaya untuk mengajar di sekolah yang dirintis serikat tani.

Setelah meninggalkan sekolah itu setelah sekolah bisa berjalan dengan baik. Kemudian aku bergabung dengan jaringan yang dirintis Pak Aripin dari SD Hikmah Teladan untuk mengembangkan sekolah-sekolah alternatif di wilayah selatan Jawa Barat.

Kepala sekolah memberiku izin tinggal di rumah dinas milik pemerintah kabupaten. Rumah dinas yang lebih layak disebut pondok itu berlantai tanah. Jika hujan turun, sering air masuk dan menggenang. Sebaliknya, kalau cuaca panas, lantai tanahnya retak-retak.

Aku menemukan banyak lubang misterius seukuran kepalan tangan orang dewasa di setiap sudut rumah. Belakangan aku tahu itu sarang tikus got dan kepiting darat. Dinding sekolah terbuat dari papan kayu yang disusun memanjang, beratapkan seng karatan.

Di siang terik, gerah bukan main. Di malam hari sangat dingin karena angin masuk dari celah besar antara dinding dan atap.

Anak kepala suku

Satu sore dari balik jendela aku melihat Haer duduk di bangku sekolah reyot di depan pondokku. Ia duduk menunduk tanpa baju, bercelana pendek biru, menggoyang-goyangkan kakinya.

Tadi pagi ia tak masuk sekolah. Ingin aku menyapa, tetapi aku bingung bagaimana caranya. Dari balik jendela aku berkata,

“Hey aku punya film bagus loh ….”

Dia menoleh kearahku. Bukannya menjawab, ia malah balik bertanya dengan nada sinis.

“Eh, kau bicara apa?” ia menyahut.

“Aku ada film bagus,” aku berkata, mengulang jawaban yang telah aku berikan.

“Barang apa itu…?”

Ia menjawab dengan suara garang, turun dari bangku reyot, ngeloyor pergi tanpa menunggu jawaban dariku.
Baru beberapa menit berlalu, ia kembali lagi ke pondokku. Aku sempat terkejut ada sosok tinggi besar tiba-tiba berdiri di depan pintu pondokku yang selalu terbuka. Ia langsung bertanya,

“Film apa?”

“Apa saja ada,” kataku, cepat-cepat menyambar laptop.

Aku suruh dia masuk. Ia tetap bergeming, berdiri di depan pintu, matanya terus menatap saat aku membuka laptop. Aku putar satu film anak, ia tidak suka. Aku buka film anak dengan judul yang lain, ia juga tidak suka. Aku buka film kartun, ia juga bilang tidak suka.

“Terus, kamu sukanya film apa?” tanyaku.

“Film perang, atau bunuh-bunuhan.”

Waduh. Sayangnya aku tidak punya koleksi film seperti itu. Namun aku masih punya satu hal yang mungkin membuat ia tertarik. Sebuah komik. Kebetulan di komik itu ada adegan berkelahinya juga.

Belum sempat aku mengambil komik itu, dia sudah balik badan, pergi begitu saja. Aku hanya bisa diam.

Esok harinya aku mulai mencari informasi lebih lanjut tentang siapa anak itu. Seorang guru mengatakan, bahwa Haer adalah salah satu anak kepala suku. Anaknya pemarah, punya banyak musuh, sekaligus banyak pengikut. Ia sering berperahu sendirian menjelajah pulau-pulau lain di kawasan itu.

Guru tersebut juga menasehati aku agar menjauhi Haer karena sifatnya yang terlalu nakal. Informasi itu justru memperkuat keyakinanku untuk mendekati anak itu dan menjadikannya teman.

Sejak hari itu setiap ketemu Haer aku selalu menawarkan sesuatu. Pernah aku menawaran mengajarkan sulap, menggambar, membuat perahu api atau memotret dengan kameraku. Ia sangat tertarik saat aku mengajarkan sulap, menggambar, dan menggunakan kamera. Lebih-lebih saat aku ajari dia membuat perahu api. Pendekatan itu perlahan-lahan meluluhkan sikap permusuhan Haer.

Tidak bisa membaca

Hari minggu, pagi-pagi sekali, Haer datang ke pondokku. Ia tampak senang sekali, seperti baru saja menemukan barang berharga. Ia bertanya kepadaku apakah aku suka makan ikan. Ragu-ragu aku menjawab,

“Kau yang tangkap? Atau punya bapa kau.”

“Saya toh ….”

Tidak lama kemudian, ia balik ke pondokku dengan membawa sekor ikan. Bukan main, beratnya sekitar sepuluh kilogram. Ikan itu bagiku bisa dimakan untuk beberapa hari. Ia minta izin mengajak masuk temannya. Tak kusangka ia membawa enam temannya, semuanya berbadan besar masuk ke pondokku. Aku senang karena ini berarti aku akan makin gampang di kenal di kampung ini. Di lain pihak aku kawatir cadangan berasku akan cepat habis.

Sehabis membakar ikan ala Sunda dan makan bersama, kami duduk-duduk santai di teras depan pondok sambil mendengarkan musik MP3. Kesempatan itu aku gunakan untuk kembali menawarkan komik pada Haer.

“Ini kau baca ya, seru.”

Haer menyambar komik yang kuberikan. Ia hanya membolak-balik halaman demi halaman hingga habis. Aku bertanya apa pendapat dia tentang komik itu.

Dengan nada dingin ia menjawab, “Ah, Bapa. Orang Jawa bikin buku aneh saja.”

Ia beranjak berdiri, dilemparnya komik itu ke meja. Dengan susara yang keras, ia mengajak kawan-kawannya pergi. Aku terheran-heran. Jangan-jangan Haer tidak bisa baca.

Lonceng terdengar berbunyi tiga kali, tanda jam masuk sekolah. Hari itu, aku punya jadwal dengan kelas V, kelas di mana Haer belajar. Ruang kelas tempatku mengajar seluas 6 X 7 meter. Dindingnya kombinasi antara tembok dan papan kayu warna kuning gelap. Penyekat dengan kelas lain hanya terbuat dari dinding kayu setinggi dua meter. Beberapa papan terlepas dan beberapa lainnya hanya tertempel dengan satu-dua paku. Anak-anak sering membongkar papan, menerobos, atau memanjat papan penyekat menuju ruang kelas lain. Sering juga terjadi adu lempar penghapus antara kelas yang satu dengan kelas yang lain.

Untuk mencairkan suasana, aku selalu membuka pelajaran dengan mendongeng, membacakan pantun, atau membuat mob. Di Papua, termasuk di Pulau Misol, mob sangat populer di kalangan orangtua, remaja, maupun anak-anak. Mob merupakan cerita lucu yang disampaikan dengan melucu pula. Biasanya disampaikan saat warga berkumpul atau bahkan di pertemuan-pertemuan resmi. Mob disampaikan bergantian dan setiap orang berusaha tampil paling lucu.

Hari itu giliran anak-anak yang membuat mob. Suasana gaduh saat acara mob dimulai. Anak-anak bersorak liar. Murid-murid dari kelas lain pun ingin bergabung. Beberapa murid sibuk mengusir anak-anak kelas lain yang menyusup ke kelas kami.

Atami, 12 tahun, mengangkat tangan dan maju ke depan kelas. Ia bercerita tentang seorang kakek dan cucunya yang pergi memancing ke laut. Sepanjang waktu cucu tertidur. Dengan marah kakek membangunkan cucu dan meminta menggantikannya menjaga pancing. Si kakek kemudian tidur. Karena cucu ingin segera pulang ia memasang singkong sebagai umpan. Lalu cucu membangunkan kakeknya. Ia minta dibantu menarik pancing. Kakek itu terkaget saat mengetahui yang dia dapat ternyata singkong, bukannya ikan.

“Cucu, kita salah mancing … di kebun orang. Ayo kita pulang,” kata Sang Kakek sebagaimana diucapkan Atami yang disambut sorak-sorai seluruh anak.

Setelah suasana menghangat, aku memulai pelajaran matematika. Aku menyuruh seorang anak mengambil buku ke kantor guru. Ternyata bilik tempat menyimpan buku terkunci. Kami belajar tanpa buku.

Aku mencoba mengetes kemampuan anak-anak dalam membagi dan mengalikan. Aku menulis beberapa soal perkalian susun puluhan di papan tulis.

Hanya beberapa anak perempuan saja yang mau mengerjakan soal. Itupun banyak yang keliru menjawab. Ternyata perkalian di bawah sepuluh pun tidak ada yang hapal.

Melihat itu aku pertama-tama harus membuat anak-anak itu hapal perkalian satu sampai sepuluh. Aku teringat saat kelas 2 SD, guruku mengajarkannya dengan bernyanyi. Metode itu aku coba terapkan.

“Sa-tu kali sa-tu … satu. Sa-tu kali dua … dua. ….,” kataku dengan bernyanyi sambil berjoget. Tangan kanan ditekuk ke atas dengan jari telunjuk lurus dan tangan kiri di tekuk ke bawah dengan telunjuk lurus, ala menari Mesir. Di perkalian dua maka jari yang lurus dua. Begitu seterusnya sampai ke perkalian sepuluh.

Anak-anak tertawa. Lalu aku menyuruh anak-anak berdiri, menirukan gerakanku sambil bernyanyi. Semua bernyanyi sambil ketawa-tawa. Lagu itu menjadi semacam yel-yel dalam setiap pertemuan. Setelah beberapa minggu, ternyata metode itu cukup berhasil.

Hampir semua murid hapal perkalian, dan selalu bergembira. Begitu juga dengan Haer. Ia sangat menikmati dan selalu tertawa keras, tapi ia kurang berhasil menghapal. Dalam waktu empat bulan, cukup banyak anak yang bisa menguasai perkalian susun.

Di luar kelas aku berusaha menarik Haer untuk tertarik berhitung. Tiap hari ia datang ke pondokku, sering dengan membawa ikan. Setiap kali ia memberiku ikan, aku menyuruhnya memotongnya menjadi beberapa bagian sembari belajar perkalian dan pembagian.

Pada kesempatan lain, aku meminta Haer menghitung jarak dari rumahnya ke pondokku dengan ukuran langkah kaki. Menurut Haer, jaraknya 500 langkah. Aku mengajak dia menghitung dalam ukuran meter, satu meter kira-kira dua langkah. Ketemulah jarak 250 meter. Dengan hal-hal yang konkret seperti itu rupanya membuat Haer bisa berhitung.

Seperti telah disinggung sebelumnya, Haer juga kesulitan dalam urusan baca tulis. Setelah aku amati, rupanya ia kesulitan belajar membaca dengan metode mengeja yang biasa diterapkan oleh guru-giru di sana. Ia sudah paham huruf-huruf. Karena itu aku mencoba mengajari dia membaca dengan mengawinkan huruf mati dengan huruf vokal. Aku meminta dia menulis pasangan-pasangan huruf sambil mengucapkannya keras-keras. Setelah sepuluh hari, dia mulai bisa membaca kalimat utuh. Aku sering meminta dia membaca komik keras-keras. Dalam lima bulan, ia mampu membaca dan menceritakan kembali apa yang dia baca.

Ketika Haer mulai bisa membaca, hubunganku dengan bapaknya, kepala suku Bahale, menjadi baik. Sebelum itu jangankan berbicara, menemui dia pun aku kesulitan.

Suatu saat aku mendapat kehormatan berkunjung ke rumahnya. Ia menyambutku dengan hangat. Ia mengucapkan terimakasih secara khusus kepadaku karena berhasil membuat Haer bisa membaca.

Sebagai balasan ia berjanji akan melindungi dan membantu aku bila diperlukan. Suatu saat aku diancam dibunuh oleh seorang kepala suku di pulau lain hanya gara-gara salah paham. Aku menceritakan masalah itu pada Haer. Ia mengajakku menemui bapanya.

“Nanti aku urus,” katanya saat aku temui di rumahnya.

Berinteraksi dengan guru-guru

Aku datang ke Raja Ampat disponsori sebuah LSM yang menjalankan program konservasi Hiu. Aku mendapat tugas untuk mendampingi guru-guru dan murid belajar segala hal yang terkait dengan penyelamatan hiu. Akan tetapi di lapangan kendala utamanya, banyak murid di kawasan Raja Ampat yang tidak bisa membaca dan menulis bahkan setelah lulus SD. Guru-gurunya pun kesulitan dalam mengembangkan metode pembelajaran yang cocok, bahkan belum mampu mendekati dan menarik anak-anak untuk belajar. Karena itu mau tidak mau aku harus membantu mengajar membaca dan berhitung, di luar misi utamaku memperkenalkan pembelajaran yang dikaitkan dengan konservasi Hiu.

Bulan pertama di Raja Ampat, aku mengunjungi sekolah-sekolah di tujuh pulau. Dalam kunjungan itu aku melakukan pengamatan praktik pembelajaran dan berdiskusi dengan guru-guru.

Dalam sebuah pertemuan aku membagikan kertas, meminta guru-guru menuliskan pokok-pokok masalah yang mereka hadapi selama mengajar. Seorang guru menuliskan, di kelas satu anak sudah berbicara kotor, caci maki dan sumpah-serapah. Ada juga yang menuliskan, anak-anak kurang bisa memperhatikan, tidak konsentrasi, mengganggu temannya, gaduh dan tidak memperhatikan guru.

Kebanyakan guru yang lain menuliskan, murid sering bolos, bahkan ada yang masuk sekolah hanya ikut ujian semester saja. Selalu saja ada alasan: disuruh orangtua ke kebun, bekerja di perusahaan, sakit, atau tidak ada perahu ke sekolah. Murid-murid juga banyak yang tidak bisa baca.

Menurut sebagian guru, banyak anak tidak bisa baca karena murid-murid mereka jarang masuk. Jawaban itu menurutku agak aneh, tapi aku tidak berani menanyakan lebih jauh, mengapa anak-anak itu tidak betah di sekolah. Aku khawatir mereka tersinggung.

Menurut pengamatanku, anak-anak tidak betah di sekolah karena suasana sekolah yang kurang kondusif. Anak-anak ke sekolah membawa kebiasaan bertengkar dengan kata-kata kasar dan sering baku pukul.

Guru-guru juga biasa menggunakan kata-kata kasar, melontarkan dengan kata-kata menghina bahkan sampai memukul. Kata-kata seperti “bodoh kau”, “otak tumpul” bahkan “babi” sering diucapkan guru-guru di dalam kelas. Hampir semua Guru SD mengajar dengan membawa tongkat atau penggaris panjang yang berfungsi ganda sebagai pemukul.

Dalam mengajarkan membaca di kelas 1, guru biasa menggunakan buku paket atau menulis di papan tulis dan menyuruh menirukan guru membaca dengan mengeja. Sampai hampir kenaikan kelas, anak-anak kelas 1 masih belajar mengeja. Di kelas-kelas yang selanjutnya guru cendErung terpaku pada target buku pelajaran, tidak mau tau muridnya bisa membaca atau tidak. Demikian juga dalam soal berhitung.

Masalah ini lebih rumit dengan melihat apa yang terjadi di masyarakat. Hanya sedikit penduduk lokal yang menyadari pentingnya pendidikan bagi masa depan anak-anak mereka. Bagi warga, anak tidak bisa baca atau berhitung tidak apa, yang penting bisa makan. Mendapatkan makanan bukan hal yang susah di sana. Asal membawa pancing, bahkan dengan tangan kosong sekalipun, ikan dapat dengan mudah ditangkap. Akibatnya pendidikan tidak dilihat sebagai kebutuhan dasar, tetapi sekedar pelengkap.

Pendidikan bagi warga tidak ubahnya seperti kemeja. Mengenakan kemeja harus dilakukan dengan memasukkan kancing satu per satu, gerah saat dipakai, dan tidak bebas bergerak. Pendidikan seperti itu dipandang hanya menambah masalah. Sekolah berbeda dengan ruang hidup mereka yang bebas. Sekolah cenderung mengekang dan membatasi anak di ruang kelas.

Bagi anak-anak sekolah mengundang berbagai ketakutan: takut tidak bisa, takut malu, takut dihina, takut ditertawakan, dan takut tidak mengerjakan PR, atau takut tidak naik kelas. Di lain pihak, tanpa harus belajar pun mereka pasti naik kelas dan mendapatkan ijazah. Guru-guru takut berhadapan parang bila tidak menaikkan atau meluluskan murid-murid mereka.

Melihat kondisi itu, aku bersama guru-guru mulai menyusun strategi mengajar yang di sukai anak-anak. Dalam diskusi dengan guru-guru, aku menekankan perlunya guru menempatkan sebagai teman bagi murid. Itu akan membuat anak tidak gugup, tegang, atau takut selaman proses belajar. Pendekatan tersebut juga membuat murid santai dan nyaman belajar.

Selain itu penting juga bagi guru kreatif dalam menyampaikan materi pembelajaran. Artinya, selalu mencari cara baru dalam setiap sesi pertemuan, membuat murid penasaran, seperti dilakukan dengan mendongeng, membuat yel-yel, bernyanyi, dan membuat media belajar yang menarik.

Di depan murid dan disaksikan guru-guru, aku sering memberikan contoh permainan untuk belajar sekaligus untuk mencairkan suasana. Agar bisa dekat dengan murid, aku juga menekankan perlunya guru mendengarkan curahan hati murid-murid, baik secara langsung maupun melalui tulisan. Ini sekaligus bermanfaat untuk menyerap informasi segala hal menyangkut anak.

Dengan begitu akan mempermudah guru masuk dalam kehidupan anak. Aku juga mendorong guru-guru sering mengajak anak belajar di luar kelas.

Selama beberapa bulan berinteraksi dengan guru-guru, hanya sebagian kecil saja yang mau berubah. Kebanyakan guru-guru menganggap pendekatan pembelajaran dengan permainan, bernyanyi, dan memperlakukan murid seperti teman akan megurangi wibawa mereka. Sebagian lainnya memang tidak bisa mempraktikkan cara pembelajaran seperti aku tunjukkan.

Menurut Bu Asna, guru kelas 2 SD, mengajar seperti itu susah. Akan tetapi justru Bu Asna yang paling tertarik mencoba menerapkan cara-cara yang aku perkenalkan. Menurut dia dengan cara seperti itu, anak-anak mudah dikontrol, lebih gampang menangkap materi, dan bersemangat dalam belajar. Beberapa anak yang tadinya jarang masuk sekolah, sekarang sering masuk.

“Ternyata mengajar itu seru ya,” kata Bu Asna suatu hari.

Sayang, ia tidak lama bertahan mengajar di sekolah itu. Setelah menikah ia kembali ke daerah asalnya di Buton.

Tidak mudah memang memajukan pendidikan seperti di pulau-pulau terpencil seperti di Raja Ampat. Ada rintangan geografis yang mesti dihadapi karena jarak antara pulau satu dengan pulau lainnya yang berjauhan. Ada masalah budaya yang kurang mendukung. Di lain pihak pemerintah hanya cenderung mengurus sarana prasarana saja.

Masalah berkaitan guru dan konten pendidikan jarang disentuh. Model sekolah yang memenjarakan anak dalam ruang kelas, menjauhkan anak dari alam bebas, dan materi pembelajaran yang bias kota-kota besar di Jawa tidak cocok dikembangkan di sana.

Terkait dengan guru, persoalannya tidak jauh berbeda dengan guru-guru di Jawa, khususnya yang tinggal di daerah pinggiran. Banyak di antara mereka yang tidak dibekali kemampuan mendekati anak, berinteraksi dengan anak, maupun penguasaan metode mengajar.

Aku senang sempat membuat sedikit “keributan”, membuat pendidikan yang berbeda, di tujuh pulau di Raja Ampat. Namun aku kecewa karena banyak guru-guru yang mulai berubah justru pergi meninggalkan Raja Ampat.

Aku kecewa pada pemerintah lokal maupun pusat yang menutup mata terhadap persoalan-persoalan pendidikan di Raja Ampat dan Papua pada umumnya.

Berpuluh-puluh tahun, banyak anak di sana dibiarkan tidak bisa berhitung dan baca tulis meski memiliki ijazah SD atau SMP. Menurut informasi yang aku dapat, hal seperti ini terjadi di berbagai daerah di Papua.

Total hanya sekitar 12 bulan aku bersentuhan dengan pendidikan di Raja Ampat. Aku belum bisa mengubah apa-apa. Paling tidak, aku telah meninggalkan sesuatu yang baik bagi pendidikan di Raja Ampat. Sekalipun itu hanya setitik.

Setelah beberapa tahun belalu, sampai hari ini aku masih berhubungan dengan beberapa murid dan mantan guru yang pernah mengajar di sana.

Akil yang pernah menjadi muridku di SMP, kemudian tertarik untuk menjadi guru. Sekarang ia kuliah di Waisay, ibu kota kabupaten Raja Ampat. Haer, sampai sekarang masih sering menelponku.

Setelah lulus SD Haer, anak kepala suku, bekerja di perusahaan mutiara. Akil dan Haer sering menelponku, berulang kali menanyakan kapan aku kembali ke sana. Aku terharu saat suatu hari Haer menelpon.

“Bapa, saya sudah kerja. Bapa mau pulsa kah…?” kata Haer dengan suara khasnya yang agak serak.

Ia mengirimkan pulsa Rp 100.000. Biasanya aku mengisi pulsa hanya Rp 10.000.***

 

*) Penulis adalah aktivis pendidikan dari Serikat Petani Pasundan

Tulisan ini pernah dibuat dalam buku “Mengajar untuk Perubahan” (Intrans Publishing, 2017)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here