Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Kak Farid

Hi, sahabat palontaraq!

Kali ini kakak akan bercerita tentang kisah seorang musafir. Generasi milenial seperti kamu saat ini, menyebutnya dengan istilah pejalan, backpacker atawa traveler. Disimak ya kisahnya dan silakan diambil pelajaran.

Begini ceritanya,

Dahulu kala ada dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir:

“HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.”

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis. Mereka lalu memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya.

Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu:

“HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU.”

Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?”

Temannya sambil tersenyum menjawab, ”Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut.”

“Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar kita tidak bisa melupakannya.”

Nah, sahabat, teman-teman dan adik-adik pengunjung rumah baca palontaraq, kalian sudah tahu pelajaran apa yang bisa dipetik dari kisah diatas.

Semoga bermanfaat adanya. Wassalam. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here